Sains - 12 Juli 2018 21:08 - oleh Cerellia Triyanto

Penemuan yang Mengubah Dunia: Gula, Dulu Obat Kini Ancam Kesehatan

Penemuan yang Mengubah Dunia: Gula, Dulu Obat Kini Ancam Kesehatan

KOMPAS.com – Siapa yang tak suka manis? Sebagian orang di segala usia menyukai rasa manis dari gula.

Bahkan, gula telah menjadi bagian umum dari kehidupan manusia. Selama beratus tahun, gula lebih dari sekedar pemanis. Benda ini menjadi obat, simbol kerajaan, kecanduan, hingga penindasan.

Kini, gula juga telah menjadi kebutuhan pokok bagi manusia.

Berbicara tentang penemuan gula, maka kita harus berbicara tentang tebu. Itu karena tebu merupakan bahan dasar pembuatan gula.

Dilansir dari The Conversation, menurut data terbaru, tebu bahkan telah menjadi tanaman ketiga paling berharga di dunia setelah seral dan padi.

Sebelum Tebu

Namun, tahukah Anda, sebelum tebu ditemukan orang membuat rasa manis dari madu. Penggunaan madu ini dikarenakan mudah ditemui.

Setiap wilayah di Eropa, Afrika, dan Asia yang tidak tertutup es memiliki lebah. Artinya, madu mudah ditemui di mana saja pada masa itu.

Bagi orang Amerika, pada masa itu, pemanis dibuat dari tumbukan nektar kaktus, buah tumbuk, atau sirup dari pohon.

Tebu Ditemukan

Selanjutnya, orang mulai mengenal tebu dan membuatnya jadi gula.

Masih belum jelas kapan dan di mana pertama kali tanaman ini dibudidayakan. Tapi sebuah literatur menyebut tebu sudah ada sejak tahun 8000 sebelum masehi (SM) di Papua Niugini.

Awalnya, orang mengunyah begitu saja tanaman berbuluh tersebut untuk menyesap manisnya.

2.000 tahun kemudian, tebu dibawa ke Filipina dan India menggunakan kapal. Sedangkan gula pertama dibuat di India.

Gula Pertama

Beberapa ratus kemudian, sekitar tahun 400-350 SM, resep makanan menggunakan gula terlihat dalam teks Mahabhashya dari Patanjali.

Orang-orang India saat itu membuat puding beras, manisan, dan minuman fermentasi jahe menggunakan gula.

Tahun 100, deskripsi pertama dari pabrik gula ditemukan dalam teks India.

Sebagai Obat

Sekitar tahun 327 SM, orang Yunani dan Romawi mempelajari pembuatan gula saat berkunjung ke India.

Nearchus, jenderal Alexandria, menulis tentang “buluh di India yang menghasilkan madu tanpa bantuan lebah, dari mana minuman yang memabukkan dibuat, meskipun tanaman itu tidak menghasilkan buah.”

Selanjutnya, sejumlah kecil “madu bubuk” dibawa ke Mediterania. Gula ini kemudian dijual pada dokter untuk tujuan medis

Kemampuan gula sebagai obat juga sempat dipelajari di sebuah universitas di Iran pada tahun 500-600 masehi.

Saat itu, para sarjana dari Yunani hingga Persia berkumpul menciptakan pendidikan rumah sakit pertama. Salah satu yang mereka pelajari adalah teks-teks medis dari berbagai budaya.

Salah satu yang mereka pelajari dan tulis adalah obat-obatan India yang kuat, yaitu gula.

Saat inilah, mereka berusaha mengembangkan metode yang lebih baik untuk mengolah tebu menjadi gula kristal.

Simbol Kerajaan

Berkat pembahasan di universitas Iran, gula mulai merambah masuk ke negara-negara Arab.

Di Arab sekitar tahun 650, gula tak lagi hanya menjadi obat dan bumbu. Bisa dibilang, gula naik kasta menjadi hidangan kerajaan.

Pemanis ini bahkan menjadi makanan langka simbol kerajaan. Artinya, saat itu yang bisa menikmati manisnya gula hanya keluarga kerajaan atau bangsawan kaya saja.

Para koki kerajaan memadukan gula dengan kacang almond untuk membuat makanan yang sekarang dikenal dengan nama marzipan.

Ilustrasi gulaFox News Ilustrasi gula

Masuk ke Eropa

Saat perang salib berkecamuk, sekitar tahun 1099, orang Eropa yang menaklukan Yerusalem mempelajari detail produksi gula.

Saat itu, bisnis gula sangat menguntungkan di kota tersebut.
Ketika para tentara Eropa kembali ke asalnya, permintaan terhadap gula semakin meluas.

Sayangnya, pemanis ini pada masa tersebut masih langka dan mahal. Ini berakibat gula hanya tersedia bagi kalangan kelas atas dan terkaya saja.

Sekitar tahun 1402 hingga 1500, dipicu kelangkaan dan harga gula, orang Eropa mulai mendirikan perkebunan tebu.

Mereka menjajah beberapa wilayah kemudian memperbudak penduduk sekitar untuk bekerja di perkebunan dan menjalankan pabrik.

Hal ini dilakukan oleh Spanyol yang menjajah Kepulauan Canary lalu ke Hispanola. Portugis yang sempat mendarat di Brasil juga secara tidak sengaja melakukan praktek yang sama.

Gula yang dihasilkan wilayah-wilayah tersebut selanjutnya dibawa ke Eropa untuk dijual.

Pada saat itu, khasiat obat pada gula santer terdengar di penjuru Eropa. Salah satu yang terkenal adalah tulisan Tabernaemontanus tahun 1515.

Dia menulis, “Gula putih yang bagus dari Madeira atau Canary, ketika diminum secukupnya membersihkan darah, menguatkan tubuh dan pikiran, terutama dada, paru-paru dan tenggorokan, tetapi itu buruk untuk orang yang panas dan limbung, karena mudah berubah menjadi empedu, juga membuat gigi tumpul dan membuat gigi membusuk.”

Sekitar tahun 1600, kopi, teh, dan cokelat mulai masuk ke Eropa. Hal ini meningkatkan konsumsi gula secara drastis.

Bahkan, pada masa tersebut gula lebih populer daripada alkohol.

Gula Bit

Kimiawan Prusia, Andrea S Margraff pada 1747 menemukan bahwa sukrosa bisa diperoleh dari buah bit.

1801, mahasiswa Margraff yang bernama Franz Carl Achard menjual gula bit pertama kali.

Selanjutnya gula bit berkembang dan meluas di Eropa hingga abad ke-20.

Ancaman Kesehatan

Berbeda dari awal penemuannya, sejak tahun 1942, Dewan Asosiasi Makanan dan Gizi Amerika menyatakan bahaya gula bagi kesehatan.

Asosiasi ini kemudian menyarankan pembatasan konsumsi gula dalam bentuk apapun.

1966, para ahli medis merekomendasikan pengurangan asupan gula menyusul sebuah penelitian yang menunjukkan kaitan gula dengan diabetes dan penyakit lainnnya.

1980, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) menganggap lemak sebagai penjahat lebih besar dari gula. Meski begitu, masalah kesehatan terkait gula juga terus meningkat.

Sekitar tahun 2000-an, gula dan berbagai pemanis buatan mulai ditinggalkan.

Banyak orang beralih pada pemanis alami seperti saat gula belum ditemukan. Mereka menggunakan nektar kaktus, madu, stevia, hingga kurma.

Penggunaan pemanis alami ini dikarenakan masalah kesehatan.

Cerellia Triyanto

Cerellia Triyanto
Bergabung: 2 September 2015

Selain menulis dan membaca, saya juga memiliki hobby travelling ke berbagai daerah di Indonesia. Lebih lagi dengan aquascape untuk mengisi waktu kosong di malam hari. Selamat menikmati tulisan saya.

Baca semua tulisan Cerellia Triyanto di sini

Komentar Pengunjung

Form Komentar

Masukkan nama dan alamat email kamu.
Masukkan isi komentar yang ingin kamu sampaikan terkait artikel ini.