Bulutangkis - 5 September 2018 11:43 - oleh Dody Triyanto

Emas Pertama Indonesia di Olimpiade Diraih di Bulan Penting Tanah Air

Emas Pertama Indonesia di Olimpiade Diraih di Bulan Penting Tanah Air

GELARAN Olimpiade 1992 bisa menjadi momen yang tak terlupakan bagi bangsa Indonesia di bidang olahraga. Bagaimana tidak, sebab untuk pertama kalinya Bendera Merah Putih berhasil berkibar di tempat teratas diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya pada ajang multievent olahraga terbesar di dunia itu.

Bukan hanya satu kali, tetapi Indonesia Raya berkumandang sebanyak dua kali pada Olimpiade 1992 di Barcelona. Adalah dua pebulu tangkis Merah Putih yakni Susy Susanti dan Alan Budikusuma yang  mencetak sejarah di dunia olahraga Inodnesia.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(“div-gpt-ad-1510661249458-0”); });

Harapan adanya medali emas di ajang Olimpiade memang sempat muncul, sebab untuk pertama kalinya, bulu tangkis dipertandingan di ajang empat tahunan sekali tersebut pada 1992. Indonesia yang memiliki torehan prestasi di ajang tepok bulu itu menjadi asa bagi Merah Putih untuk bisa merebut medali emas setelah mengikuti Olimpiade selama 36 tahun.

Susy Susanti

(Susy Susanti pebulu tangkis andalan Tanah Air pada masanya. Foto: AFP)

Berlangsung pada 28 Juli – 4 Agustus 1992, bulu tangkis sangat diharapkan bisa memberikan prestasi tertinggi di Olimpiade Barcelona, terlebih Agustus merupakan bulan yang sangat penting bagi Tanah Air. Setiap tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia selalu merayakan hari jadi Tanah Air tercinta ini.

Apalagi bulu tangkis Indonesia mengirimkan sembilan wakil di empat nomor berbeda untuk bersaing di cabang olahraga (cabor) bulu tangkis. Dua di antaranya Alan di nomor tunggal putra dan Susy di nomor tunggal putri.

Pada ajang tersebut Susy memang menjadi andalan Merah Putih untuk meraih medali emas. Sebab peman kelahiran Tasikmalaya itu merupakan satu-satunya wakil Indonesia yang ditempatkan pada unggulan pertama. Sementara itu Alan hanya ditempatkan pada unggulan 5/8.

Tak terbendung, Susy pun berhasil melangkah ke final dan bertemu Bang Soo-hyun asal Korea Selatan yang berlangsung pada 4 Agustus 2018. Sejumlah lawan pun mampu dilewati dengan baik oleh Susy yang begitu perkasa sejak babak-babak awal. Beberapa nama seperti Kohhara Harumi (Jepang), Wong Chun Fan (Hong Kong), dan Huang Hua (China), mampu ia lewati untuk menapaki laga final.

Sementara cerita berbeda dialami Alan. Lima lawan harus dihadapi Alan sebelum akhirnya melangkah ke partai final. Koh Leng Kang Donald (Singapura), Kukasemkij Sompol (Thailand), Antropov Andreij (Rusia), Kim Hak Kyun (Korea Selatan), dan Stuer Lauridsen (Denmark), berhasil dilewati lawan untuk jumpa rekan senegaranya Ardy B. Wiranata di laga pamungkas.

Bertemunya Ardy dan Alan pun sejatinya sudah bisa memastikan bahwa Merah Putih untuk pertama kalinya meraih medali emas di ajang Olimpiade. Tetapi Susy menjadi orang pertama yang secara resmi mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di pesta olahraga terbesar di dunia itu.

Menghadapi Bang yang merupakan unggulan keempat, Susy mendapat perlawanan ketat. Set pertama, Susy harus mengakui keunggulan Bang dengan skor 5-11. Akan tetapi, ia menunjukkan semangat tingginya untuk bisa mempersembahkan medali emas pertama pada set kedua dan ketiga. Hingga akhirnya set kedua dan ketiga pun menjadi milik Susy setelah memenangi set kedua dan ketiga dengan skor 11-5 dan 11-3.

Tangisan haru pun memenuhi wajah Susy yang tak kuasa menahan rasa kebanggaannya. Bang yang menempatkan shuttlecock di luar garis permainan, membuat wanita kelahiran 11 Februari 1971 itu mencetak sejarah bagi Indonesia. Bahkan matanya berkaca-kaca ketika bersalaman dengan sang lawan dan wasit.

Alan Budikusuma

(Alan Budikusuma raih medali emas Olimpiade 1992. Foto: AFP)

Belum sampai di situ, Indonesia pun menantikan emas kedua yang masih belum tahu akan dipersembahkan oleh Ardy atau Alan. Ardy sendiri menjadi nama yang difavoritkan, karena menempati unggulan 3/4. Akan tetapi, hal tersebut tak membuat Alan menyerah. Seakan termotivasi dengan jejak sang kekasih, Alan mampu mengawinkan emas Olimpiade bersama Susy setelah memenangi pertandingan atas Ardy dengan skor 15-12 dan 18-13.

Momen itu bahkan menjadi momen yang tak terlupakan karena tidak hanya membanggakan bagi Indonesia, tetapi keduanya. Alan-Susy pun kerap disebut ‘Pengantin Olimpiade’ yang pada akhirnya pasangan kekasih untuk meneruskan hubungan hingga ke jenjang pernikahan pada lima tahun berikutnya.

Kejayaan bulu tangkis Indonesia itu pun mengantarkan Merah Putih duduk di posisi 24 klasemen akhir dengan koleksi dua emas, dua perak dan satu perunggu. Kelima medali tersebut pun semuanya dipersembahkan melalui bulu tangkis. Dua perak dipersembahkan Ardy dan ganda putra Eddy Hartono/Rudy Gunawan. Serta satu perunggu dipersembahkan Hermawan Susanto di nomor tunggal putra.

Keberhasilan itu membuat nama Indonesia kian diperhitungkan di Olimpiade. Sejak saat itu, tradisi emas Indonesia di Olimpiade tidak pernah terlewatkan dari cabor bulu tangkis. Akan tetapi, pada Olimpiade 2012, Merah Putih harus gagal melanjutkan tradisi emas tersebut, sebelum akhirnya dikembalikan lagi pada 2016 lewat pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Olimpiade Rio Janeiro.

1 / 3

  • TAG :
  • Alan Budikusuma
  • Susy Susanti
  • HUT RI 2018
  • HUT RI
  • HUT RI ke-73

googletag.cmd.push(function () { googletag.display(‘div-gpt-ad-1477642290967-0’);});

Sementara cerita berbeda dialami Alan. Lima lawan harus dihadapi Alan sebelum akhirnya melangkah ke partai final. Koh Leng Kang Donald (Singapura), Kukasemkij Sompol (Thailand), Antropov Andreij (Rusia), Kim Hak Kyun (Korea Selatan), dan Stuer Lauridsen (Denmark), berhasil dilewati lawan untuk jumpa rekan senegaranya Ardy B. Wiranata di laga pamungkas.

Bertemunya Ardy dan Alan pun sejatinya sudah bisa memastikan bahwa Merah Putih untuk pertama kalinya meraih medali emas di ajang Olimpiade. Tetapi Susy menjadi orang pertama yang secara resmi mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di pesta olahraga terbesar di dunia itu.

Menghadapi Bang yang merupakan unggulan keempat, Susy mendapat perlawanan ketat. Set pertama, Susy harus mengakui keunggulan Bang dengan skor 5-11. Akan tetapi, ia menunjukkan semangat tingginya untuk bisa mempersembahkan medali emas pertama pada set kedua dan ketiga. Hingga akhirnya set kedua dan ketiga pun menjadi milik Susy setelah memenangi set kedua dan ketiga dengan skor 11-5 dan 11-3.

Tangisan haru pun memenuhi wajah Susy yang tak kuasa menahan rasa kebanggaannya. Bang yang menempatkan shuttlecock di luar garis permainan, membuat wanita kelahiran 11 Februari 1971 itu mencetak sejarah bagi Indonesia. Bahkan matanya berkaca-kaca ketika bersalaman dengan sang lawan dan wasit.

Alan Budikusuma

(Alan Budikusuma raih medali emas Olimpiade 1992. Foto: AFP)

Belum sampai di situ, Indonesia pun menantikan emas kedua yang masih belum tahu akan dipersembahkan oleh Ardy atau Alan. Ardy sendiri menjadi nama yang difavoritkan, karena menempati unggulan 3/4. Akan tetapi, hal tersebut tak membuat Alan menyerah. Seakan termotivasi dengan jejak sang kekasih, Alan mampu mengawinkan emas Olimpiade bersama Susy setelah memenangi pertandingan atas Ardy dengan skor 15-12 dan 18-13.

Momen itu bahkan menjadi momen yang tak terlupakan karena tidak hanya membanggakan bagi Indonesia, tetapi keduanya. Alan-Susy pun kerap disebut ‘Pengantin Olimpiade’ yang pada akhirnya pasangan kekasih untuk meneruskan hubungan hingga ke jenjang pernikahan pada lima tahun berikutnya.

Kejayaan bulu tangkis Indonesia itu pun mengantarkan Merah Putih duduk di posisi 24 klasemen akhir dengan koleksi dua emas, dua perak dan satu perunggu. Kelima medali tersebut pun semuanya dipersembahkan melalui bulu tangkis. Dua perak dipersembahkan Ardy dan ganda putra Eddy Hartono/Rudy Gunawan. Serta satu perunggu dipersembahkan Hermawan Susanto di nomor tunggal putra.

Keberhasilan itu membuat nama Indonesia kian diperhitungkan di Olimpiade. Sejak saat itu, tradisi emas Indonesia di Olimpiade tidak pernah terlewatkan dari cabor bulu tangkis. Akan tetapi, pada Olimpiade 2012, Merah Putih harus gagal melanjutkan tradisi emas tersebut, sebelum akhirnya dikembalikan lagi pada 2016 lewat pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Olimpiade Rio Janeiro.

Dody Triyanto

Dody Triyanto
Bergabung: 31 Agustus 2015

Orang yang sederhana dengan hobby membaca dan ngoding. Spesialis di PHP, MySQL, HTML, CSS, Javascript etc. Keseharian membaca, menulis, ngoding, nonton dan makan. Nikmati tulisan saya yang sederhana ini ya.

Baca semua tulisan Dody Triyanto di sini

Komentar Pengunjung

Form Komentar

Masukkan nama dan alamat email kamu.
Masukkan isi komentar yang ingin kamu sampaikan terkait artikel ini.
Web Hosting