Traveling - 10 September 2018 13:17 - oleh Cerellia Triyanto

Benteng Marlborough, Potensi Besar Datangkan Wisman Inggris ke Bengkulu

Benteng Marlborough, Potensi Besar Datangkan Wisman Inggris ke Bengkulu

JAKARTA, KOMPAS.com – Salah satu kekayaan sejarah Bengkulu ialah Benteng Marlborough, peniggalan keluarga besar dari Inggris di era Kolonial.

Ternyata, banyak kisah sejarah yang membuat benteng ini masih dikenang dan didatangi wisman Inggris.

“Benteng itu bukan benteng biasa, sempat ditinggali sama petinggi kerajaan, keluarga terhormat, sampai ada perjanjian lintas negara di sana,” tutur Pelaksana Tugas Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah saat konferensi pers Festival Tabot, di Jakarta, Rabu (5/9/2018).

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “300 Hektar Lahan Pulau Baai Bengkulu Diusulkan Jadi KEK Pariwisata”, https://travel.kompas.com/read/2018/09/06/090000727/300-hektar-lahan-pulau-baai-bengkulu-diusulkan-jadi-kek-pariwisata.
Penulis : Muhammad Irzal Adiakurnia
Editor : Wahyu Adityo Prodjo

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “300 Hektar Lahan Pulau Baai Bengkulu Diusulkan Jadi KEK Pariwisata”, https://travel.kompas.com/read/2018/09/06/090000727/300-hektar-lahan-pulau-baai-bengkulu-diusulkan-jadi-kek-pariwisata.
Penulis : Muhammad Irzal Adiakurnia
Editor : Wahyu Adityo Prodjo

Menurut catatan sejarah, Benteng Marlborough Bengkulu dibangun pada tahun 1714 sampai 1719 oleh Kerajaan Inggris Raya ketika era pemerintahan Gubernur Jenderal Joseph Collet.

Saat itu Inggris melakukan ekspansi di sebagian wilayah Sumatera, terutama di Bengkulu, hingga kemudian mendirikan Benteng Marlborough.

Benteng Marlborough di Bengkulu.ARSIP INDONESIA.TRAVEL Benteng Marlborough di Bengkulu.

Lokasi benteng ini berada di tepi Samudera Hindia menghadap ke selatan. Benteng seluas 44.100 persegi ini masih terlihat kokoh, bersih dan terawat. Seperti ciri khas benteng Inggris, di bagian luar benteng dikelilingi parit buatan.

Jika Anda memperhatikan arsitekturnya, benteng ini terlihat simetris, terutama jika dilihat dari udara. Rohidin mengatakan Benteng Marlborough ini dahulu dijadikan markas besar East Indian Company, sebuah perusahaan dagang Inggris yang kala itu menguasai komoditi lada hitam Bengkulu yang dibawa hingga ke Britania Raya.

Selain itu, ketika Inggris dan Belanda berseteru soal wilayah kekuasaannya, benteng tersebut ditukar melalui Traktat London 1824.

Dalam perjanjian tersebut, dijelaskan bahwa Belanda menyerahkan Malaka dan Semenanjung Melayu termasuk Penang dan sebuah pulau kecil tidak bertuan, Singapura kepada Inggris.

Sedangkan, Inggris (Britania) menyerahkan pabriknya di Bengkulu, Port Marlborough dan seluruh kepemilikannya pada pulau Sumatera kepada Belanda. Perjanjian tersebut dilakukan pada 17 Maret 1824 di London.

“Ini dulu tempat perjanjian traktat London, Bengkulu sempat ditukar dengan Singapura. Jadi sejarahnya melibatkan bangsa Inggris, Indonesia, Singapura, dan Belanda,” tuturnya.

Diorama Bung Karno dan dan Residen Bengkulu dari pemerintah Hindia Belanda, Cornelis Eduard Maier, di salah satu ruang pameran Benteng Marlborough, Kota Bengkulu.KOMPAS.COM/FIRMANSYAH Diorama Bung Karno dan dan Residen Bengkulu dari pemerintah Hindia Belanda, Cornelis Eduard Maier, di salah satu ruang pameran Benteng Marlborough, Kota Bengkulu.

Wisatawan mancanegara (wisman) negara-negara tersebut lah yang jadi sasaran pariwisata jika benteng tersebut jadi dikemas.

Di bagian depan, terdapat tiga makam tua yang merupakan peristirahatan terakhir Residen Thomas Parr, pegawainya Charles Murray, dan satu makam lagi milik Capt Robert Hamilton yang mati dibunuh warga Bengkulu kala itu.

“Sampai saat ini makam-makam Inggris di Bengkulu masih rutin dikunjungi keluarganya setahun sekali,” paparnya.

Menurutnya, wisatawan tidak hanya menikmati wisata sejarah, karena benteng ini dekat dengan deretan pantai indah Bengkulu. Wisatawan dapat menikmati hamparan pasir putih Pantai Tapak Padri yang bersambung hingga Pantai Panjang Bengkulu.

Rohidin Mersyah mengatakan kedepan pihaknya akan coba mengemas dengan beberapa acara nasionalisme di sana, selain itu juga acara yang berkaitan dengan sejarah beberapa negara di sana.

“Kemarin kita coba upacara 17 Agustus di sana, ternyata hawanya sangat beda, terasa lebih sakral, dan monumental. Saya rasa cocok untuk event-event nasionalisme di sana,” tuturnya.

Cerellia Triyanto

Cerellia Triyanto
Bergabung: 2 September 2015

Selain menulis dan membaca, saya juga memiliki hobby travelling ke berbagai daerah di Indonesia. Lebih lagi dengan aquascape untuk mengisi waktu kosong di malam hari. Selamat menikmati tulisan saya.

Baca semua tulisan Cerellia Triyanto di sini

Komentar Pengunjung

Form Komentar

Masukkan nama dan alamat email kamu.
Masukkan isi komentar yang ingin kamu sampaikan terkait artikel ini.
Web Hosting